3/12/2014

Ke pulau dewata



1. Sekali ini,saya sendirian lagi ke negeri seberang.Dengan harapan,ada pelajaran dan pengalaman baru yang ingin dibawa pulang dari negeri orang.Yang mendebarkan,buatkan saya berfikir lebih rasional.Melihat kekurangan,buatkan saya lebih menghargai.Penerbangan tiba lewat tengah malam,bandara kelihatannya sepi.Melewati pemeriksaan imigresen sekaligus menambahkan rasa tidak keruan.Segalanya rasa tidak kena.Sepertinya ada yang tidak pada saya.Keberanian;mungkin itu yang barangkali sudah tercicir ketika saya berayun-ayun bergantung kepada pemegang bas shuttle bandara.Perlahan-lahan saya lepaskan nafas,beri senyuman dan serahkan passport untuk disemak.Pengalaman sekali ini bukan percuma,iainya perlu dibayar dengan sebuah keberanian.Bag sandang saya kenakan biarkan ia mencengkam pada bahu.Passport usai disemak dan langkahan saya seperti kecurigaan yang telah mati.Langsung menjadi deras.Keberanian ibarat meresap ke dalam pejal daging di dalam dada sehingga cukup rasaya sampai untuk melanggar sebuah gunung.

Mungkin kala itu saya teringat kata seorang teman yang katanya memetik Nietzche.Bahawa keberanian itu adalah dia yang mengetahui apa itu ketakutan,tetapi menakluknya.Dia yang melihat kebawah jurang,tapi dengan bangga.


2. Ombak laut lepas yang bergulung sehingga menghempas pada tebing tinggi dan membuih.Langit membiru sehingga ufuk kejauhan.Semuanya terlalu indah.Masalahnya saya tidak mampu untuk hanya menelan nikmat pandangan ini sendiri sehingga adakala rasa tertekan dan saya rasakan bahawa saya perlukan seseorang supaya dia mendengar saya memuji keindahan ini dan dia mengiyakan semahu-mahunya.

3. Saya sepertinya sudah kelihatan seperti orang Indonesia,cara bercakap dan membawa diri semuanya kelihatan menyakinkan (sehinggakan ketika sudah tiba di tanah air,ada seorang yang bertanya sesuatu dan sepatutnya saya membalas mengunakan kata "bukan" tapi sebaliknya saya mengunakan "ngak").Pemergian ini usianya baru empat hari,bagaimana kalau sebulan lamanya?

4. Jarak perjalanan dari satu tempat ke satu tempat yang lain agak jauh dan saya cuma menaiki motosikal yang disewa.Sesat jalan itu sudah pasti,bertanya orang itu lebih membantu dari membaca peta.Perkara yang paling ditakuti sekali akhirnya terjadi apabila nafas terasakan turun naik melihat adanya sekatan jalan raya.Saya berhentikan motosikal kira-kira 200 meter dari sekatan dan mengeluh.Seorang lelaki pertengahan usia mendekati.Mau kemana mas? soalnya sambil tersenyum.Mau ke pasar Ubud bapak,saya balas pertanyaannya dan ketawa kecil di dalam hati.Bahasa saya sangat menyakinkan.Ah,masuk aja ke dalam kuburan itu,kata orang tua itu.Berkerut sebentar dahi saya sambil menanya semula,bisa bapak?.Dia cuma tertawa,dan kemudian berhenti,bisa aja katanya.Dan saya turuti katanya,cuma yang ini saja tinggal jalannya.

Pulang dari sana sekali lagi terdapat sekatan jalan,maka saya terpaksa membayar penguasa sejumlah wang yang saya memang sudah bersedia tersimpan di dalam saku seluar.Korupsi yang membahagiakan.Tetapi hati kecil saya berkata,uangnya lupus gitu aja,dan sekarang ini saya lagian tua di jalanan kerana jaraknya.

5. Ketemu seorang lelaki yang bersendiri menunggang motosikal.Siku dan keting kakinya luka akibat kecelakaan.Melihat matahari terbenam,luka perihnya terlupa.Andre namanya,seorang lelaki Minang dari negeri Padang.Kami kerap berdiskusi tentang Indonesia dan Malaysia malah sehingga hari terakhir sebelum berpisah pulang ke bandara,kami masih lagi hebat berdiskusi di restoran makanan segera.Membicara idealisme politik,agama dan sastera di dalam bahasa Indonesia ternyata sangat romantis.Bila ditanyakan tentang ketakutan rakyat Indonesia terhadap bencana alam.Katanya,itulah tantangan untuk negara ini maju.

6. Rupanya,Gunung Merapi yang dinyatakan Hamka itu letaknya di sumatera barat bukannya di jawa tengah.Saya ketawa besar.Sesungguhnya,salah anggap ini saya tak patut sesali.Tuhan hantarkan  lelaki Minang ini untuk menghadiahkan saya sebuah kebenaran.

7. Di balai pelepasan ketika di bandara ngurah rai,saya menulis panjang di jurnal dan bersoal-soal sama ada perlu  atau tidak saya kembali lagi ke sini.Mungkin saya akan kembali untuk dua kali lagi.Sekali dengan teman-teman,berlibur semahu-mahunya.Sekali lagi kembali dengan wang yang banyak,bersama si cinta hati (kalaulah punya seorang dalam jangka lima tahun lagi).

8.

2 comments:

  1. Paling kagum dengan Hamka. Gud luck for the next 5 years. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaupun pujuk rayu dia meleleh,kira okay la tapi.Haha,terima kasih!

      Delete